Rabu, 08 Februari 2012

PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) DALAM PENDIDIKAN BAHASA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam dua dasawarsa terakhir ini, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mengalami perkembangan yang amat pesat dan secara fundamental telah membawa perubahan yang signifikan dalam percepatan dan inovasi penyelenggaraan pendidikan di berbagai negara. Bahkan terdapat tekanan TIK yang sangat besar terhadap sistem pendidikan secara global karena: (i) teknologi yang berkembang menyediakan kesempatan yang sangat besar untuk mengembangkan manajemen pendidikan dan proses pembelajaran di sekolah, (ii) hasil belajar siswa yang spesifik dapat diidentifikasi dengan pemanfaatan teknologi baru tersebut, dan (iii) TIK memiliki potensi yang sangat besar untuk mentransformasikan seluruh aspek di dalam pendidikan di sekolah dan memanfaatkannya untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.
Sejumlah negara telah mengintegrasikan TIK dalam perencanaan dan penyelenggaraan pendidikan nasionalnya. Singapura, misalnya, telah menerapkan teknologi informasi interaktif pada sistem sekolah dengan rasio satu komputer dua siswa. Sistem jaringan dibangun untuk menghubungkan pendidikan, dunia internasional, dunia industri berteknologi tinggi, dan dunia kerja. Ringkasnya, beberapa negara telah mengubah kultur pembelajaran dengan mengintegrasikan teknologi digital ke dalam kegiatan belajar dan bekerja di sekolah.
Peralihan kultur yang dimaksud di atas hanya bisa terjadi kalau komunitas pendidikan memiliki komitmen yang kuat untuk memanfaatkan TIK. Kelompok komunitas tersebut adalah para praktisi pendidikan baik yang berkaitan dengan manajemen maupun proses belajar mengajar pada semua tingkatan dan unit pendidikan, yang terdiri atas guru, dosen, instruktur, kepala sekolah, pengawas, staf administrasi, dan pejabat dalam lingkungan departemen pendidikan. Yang tak kalah pentingnya adalah para subjek pendidikan dari semua jenjang yang terdiri atas siswa dan mahasiswa. Dalam konteks ini, pemanfaatan TIK harus direalisasikan untuk (a) pengelolaan pendidikan melalui otomasi sistem informasi manajemen dan akademik berbasis TIK, dan (b) sistem pengelolaan pembelajaran baik sebagai materi kurikulum, suplemen dan pengayaan maupun sebagai media dalam proses pembelajaran yang interaktif serta sumber-sumber belajar mandiri yang inovatif dan menarik. Dengan kata lain, pendayagunaan TIK dalam manajemen pendidikan dan proses pembelajaran bertujuan untuk menfasilitasi penyelenggara dan peserta pendidikan guna mendorong peningkatan kualitas pendidikan.
Dalam bidang pengajaran bahasa, tentunya TIK sangat berperan guna menunjang adanya sarana media yang baik dalam pembelajarannya. Hal ini deisebabkan karena, dalam mempelajari bahasa, dituntut adanya sarana audio (pendengaran) dan visual (penglihatan) yang memadai. Contoh, ketika guru menerjemahkan suatu bahasa ke bahasa lainnya maka, peran sarana audio yang baik (berupa earphone atau sound system) mutlak diperlukan guna memperlihatkan detil dan cara pengucapan, agar tercapai transformasi informasi ilmu yang tepat dan baik. Oleh sebab itu adanya laboratorium bahasa kiranya amat penting untuk menunjang pembelajaran bahasa.  
Persyaratan mengenai laboratorium bahasa adalah contoh yang umum. Biasanya ada enam masalah utama, yaitu ; (i) Anggaran untuk perawatan fasilitas awal tidak tersedia; (ii) Pelatihan biasanya terlalu spesifik dan tidak berhubungan dengan kebutuhan di lapangan atau perubahan sikap, (iii) Tidak tersedianya karyawan untuk perawatan rutin dan pengembangannya, (iv) Tidak tersedianya teknisi ahli atau terlalu mahal, (v) Materi yang sesuai untuk mengajar tidak tersedia, dan (vi) Lemahnya kondisi kerja guru di lapangan mendorong bahwa mereka tidak dapat membagi waktu untuk mengembangkan materi mengajar secara kreatif. Di sisi lain, sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan TIK dalam pembelajaran memiliki dampak positif terhadap performansi dan prestasi belajar siswa (Graus, 1999; Stepp-Greany, 2000; Stepp-Greany, 2002; and Choi and Nesi, 1999).
Atas sebab masalah di atas, selanjutnya akan dirumuskan beberapa permasalahan yang harus menjadi perhatian sekolah agar aplikasi TIK dalam bidang bahasa ini dapat berjalan secara optimal.

1.2 Rumusan Masalah
Pentingnya TIK dalam pengajaran khususnya pengajaran bahasa tentunya tidak serta merta tanpa hambatan. Dalam pendahulusan sebelumnya telah disinggung beberapa permasalahan yang kiranya dapat menghambat penerapan TIK dalam pengajaran bahasa, yaitu sebagai berikut:
a. Apa guna sarana dan prasarana TIK di sekolah?
b. Apa manfaat TIK untuk guru dalam pengajaran bahasa?
c. Bagaimana cara membuat materi ajar yang komprehensif yang berbasis TIK dalam pengajaran bahasa?


BAB II
KAJIAN TEORETIS
2.1 Pengertian TIK
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Teknologi komunikasi mencakup segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentrasfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Karena itu, penguasaan TIK berarti kemampuan memahami dan menggunakan alat TIK secara umum termasuk komputer (Computer literate) dan memahami informasi (Information literate). Tinio mendefenisikan TIK sebagai seperangkat alat yang digunakan untuk berkomunikasi dan menciptakan, mendiseminasikan, menyimpan, dan mengelola informasi. Teknologi yang dimaksud termasuk komputer, internet, teknologi penyiaran (radio dan televisi), dan telepon. UNESCO (2004) mendefenisikan bahwa TIK adalah teknologi yang digunakan untuk berkomunikasi dan menciptakan, mengelola dan mendistribusikan informasi. Defenisi umum TIK adalah computer, internet, telepon, televise, radio, dan peralatan audiovisual.
2.2 Perangkat Lunak
Dalam penerapan manajemen sekolah berbasis TIK, perangkat lunak tidak kalah pentingnya dengan perangkat keras TIK. Investasi perangkat keras tidak akan bermakna apabila tidak disertai dengan perangkat lunak. Oleh sebab itu, perangkat lunak dalam kaitannya dengan manajemen sekolah perlu dibahas pada bagian ini. Dalam Wikipedia (2007), Perangkat lunak atau piranti lunak adalah program komputer yang berfungsi sebagai sarana interaksi antara pengguna dan perangkat keras. Perangkat lunak dapat juga dikatakan sebagai 'penterjemah' perintah-perintah yang dijalankan pengguna komputer untuk diteruskan ke atau diproses oleh perangkat keras. Perangkat lunak ini dibagi menjadi 3 tingkatan: tingkatan program aplikasi (application program misalnya Microsoft Office), tingkatan sistem operasi (operating system misalnya Microsoft Windows dan Linux), dan tingkatan bahasa pemrograman.

2.3 Internet
Internet adalah jaringan internasional yang mengkoneksikan ribuan bahkan jutaan komputer dengan muatan isi yang beragam, seperti pendidikan, pemerintahan, bisnis, budaya, dan teknologi. Jaringan internet ini memungkinkan individu berinteraksi dan berkomunikasi dengan yang lainnya melalui komputer dari berbagai belahan dunia dengan biaya yang cukup terjangkau. Beberapa fasilitas dan aktivitas internet yang dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran adalah email, forum diskusi, web browsing, dan chatroom.
2.3 Multimedia
Multimedia berasal dari dua kata yaitu multi dalam bahasa latin berarti bermacam-macam, dan medium yang  berarti, sesuatu yang dipakai untuk menyampaikan atau membawa sesuatu.
Alat yang dapat menciptakan presentasi yang dinamis dan interaktif yang mengkombinasikan teks, grafik, animasi, audio dan video (Robin dan Linda, 2001). Multimedia dalam konteks komputer menurut Hofstetter 2001 adalah, pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggabungkan teks, grafik, audio, video, dengan menggunakan alat yang memungkinkan pemakai berinteraksi, berkreasi, dan berkomunikasi.

BAB III
3.1 TIK DAN PROSES PEMBELAJARAN BAHASA
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang sangat pesat membawa paradigma baru dalam pendidikan dari berbagai aspek, antara lain perubahan dari pembelajaran tradisional ke pembelajaran baru, dari teacher centered ke learner centered, sampai pada perubahan information delivery ke information exchange, sebagaimana digambarkan di bawah ini:
Traditional Learning
New Learning
Teacher Centered
Students Centered
Single Media
Multimedia
Isolated Work
Collaborative Work
Information Delivery
Information Exchange
Factual Knowledge Based-Learning
Critical Thinking and Informed Decision Making

Perkembangan tersebut juga telah menghasilkan produk-produk TIK yang lebih canggih yang kalau dimanfaatkan seoptimal mungkin, ia dapat membawa nuansa dan perspektif baru dalam dunia pendidikan yang pada gilirannya akan dapat mengakselerasi peningkatan mutu pendidikan. Selain dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan administratif, produk TIK telah banyak digunakan untuk membantu proses pembelajaran, khususnya di negara-negara maju dan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Banyak yang telah mengklaim bahwa perangkat komputer multimedia berikut piranti lunaknya sebagai salah satu produk TIK menjanjikan kegiatan yang cukup interaktif dan menyenangkan bagi peserta didik karena alat tersebut tidak hanya mampu menampilkan teks, tapi juga gambar, suara, grafik, animasi, dan rekaman video. Bahkan dengan koneksi di internet, interaksi dapat menjadi nyata yang tentunya membawa pengalaman nyata pula bagi peserta didik. Interaksi lewat internet tersebut dapat bersifat sinkronis atau asinkronis. Pemanfaatan teknologi informasi ini dalam pembelajaran dikenal dengan istilah e-learning, baik dalam bentuk dedicated program, maupun dalam bentuk LMS (Learning Management System) yang menawarkan interaksi yang dinamis antara guru dan siswa.
Fasilitas pembelajaran elektronik lainnya yang dikembangkan di Indonesia adalah TV Edukasi, yang menampilkan berbagai topik pembelajaran dari berbagai mata pelajaran dengan modus penyampaian yang bervariasi. Banyaknya CD pembelajaran yang dapat ditemukan di pasaran atau didistribusikan ke sekolah-sekolah juga menjadi peluang tersendiri yang dapat dimanfaatkan oleh sekolah dalam menunjang proses pembelajaran yang lebih baik. Sayangnya, meskipun disadari bahwa TIK dapat membantu mempercepat proses pendidikan dan berpotentsi meningkatkan mutu pendidikan, pemanfaatannya belum meluas dan merata di sekolah-sekolah.
Penggunaan perangkat TIK dalam proses pembelajaran di atas adalah bentuk integrasi TIK dengan sistem pembelajaran. UNESCO (2004) mengklaim bahwa integrasi kurikulum adalah pemanfaatan kemampuan TIK untuk memberikan nilai tambah pada proses pembelajaran dengan mengintegrasikan kegiatan-kegiatan berbasis TIK ke dalam kurikulum. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi antara lain: (i) menggunkan paket perangkat lunak generik (paket aplikasi office, grafik, dan presentasi), (ii) menggunakan perangkat lunak khusus untuk pembelajaran interaktif, simulasi, dan penguasaan konten; (iii) menggunakan alat komunikasi sinkronos dan asinkronos untuk kolaborasi online dan pertukaran informasi (email, web forum, instant messaging, audio dan video conferencing), dan (iv) menggunakan internet sebagai sumber informasi dan penelitian. Dalam model integrasi kurikulum, keterampilan TIK tidak diajarkan sebagai kegiatan terpisah, tapi didapatkan seiring dengan kegiatan pembelajaran berbasis TIK. Piranti-piranti tersebutr kiranya dapat memberikan efek baik guna menunjang pengajaran, khususnya bahasa.
Permasalahan-permasalahan dalam mempelajari bahasa tentunya ada dalam konsep pemahaman dan cara pelafalan. Semakin dekat cara melafalkan dan memahami konsepsi statu bahasa sesuai dengan penutur aslinya maka, barulah dikatakan proses pembelajaran bahasa tersebut sempurna. Oleh sebab itu, piranti audio visual dalam ruangngan multimedia yang ada disekolah, kiranya dapat mewujudkan hal tersebut. Studi kasus misalkan: ada seorang guru bahasa Inggris yang menginginkan para muridnya secara fasih mengucapkan kata atau kalimat bahasa asing tersebut dengan baik maka ia akan memperdengarkan penutur aslinya berbicara melalui piranti peralatan audio yang tersedia. Dalam bahasa Inggris secara harfiah sangat berbeda pelafalannya dengan bahasa Indonesia. Fonem-fonem “krusial” seperti  /r/, /c/, /t/, dsb, terkadang sulit dilafalkan oleh “lidah” orang Indonesia. Oleh sebab itu, mendengar langsung melalui audio, akan mempermudah siswa guna meresapi dan mempelajari artikulasi pelafan yang baik fonem-fonem tersebut.
3.2 TIK Sebagai Sarana Pengembangan Guru
TIK bukan hanya dibutuhkan oleh murid dalam aplikasinya, Namur guru pun harus memanfaatkan seoptimal mungkin fasilitas ini. Seperti diketahui kini, guru Semarang sudah diarahkan perannya menjadi seorang fasilitator. Hal ini tentunya harus ditunjang dengan wawasan keilmuan yang memadai, serta cara penyampaiaan yang baik. Hal ini tentunya tidak bisa didapat hanya dengan mengandalkan pengalaman. Sumber-sumber pengetahuan lainnya tentu harus dimanfaatkan guna menjaga kualitas seorang pengajar, salah satunya dengan pemanfaatan TIK.
Internet adalah sebuah teknologi informasi yang sangat baik guna memberikan input positif kepada guru. Dengan menggunakan internet kita dapat menemukan informasi secara cepat dengan kuantitas yang banyak. Hal ini berarti guru dituntut untuk dapat ”berselancar” dalam internet, agar wawasan keilmuannya tetap bertambah dan dapat mengayomi para siswanya. Pada bagian ini, situs-situs multi-finders seperti Google, Yahoo, dsb, dapat dijadikan rujukan guna menambah pengetahuan di bidang pengajaran. Contoh dalam bidang bahasa, seorang guru kesulitan untuk menemukan referensi materi untuk mengajar dialek bahasa tertentu, maka dia dapat mencarinya di situs pencari Google dengan memasukan kata kunci sesuai dengan apa yang ingin ia ketahui.
Selain menambah informasi secara mudah dan cepat, guna TIK pada guru adalah sebagai berikut:
a. membuka peluang bagi guru untuk mengembangkan bahan ajar yang berbasis TIK menarik, inovatif dan merangsang rasa ingin tahu siswa,
b. membantu guru untuk menyusun rencana pembelajaran termasuk penyediaan sumber belajar multimedia yang komprehensif dan mutakhir,
c. memudahkan guru untuk memantau kemajuan belajar siswa,
d. memfasilitasi guru untuk menyusun laporan dan mengkomunikasikannya dengan orang tua,
e. membantu guru untuk melakukan penilaian hasil belajar berdasarkan authentic assessment.
3.3 Penyususnan Bahan Ajar dengan TIK
Materi adalah sebuah syarat utama guru ketika mengajar. Dengan materi yang tepat guru dapat menuntaskan proses belajar-mengajar dengan baik. Hal ini tentunya akan sangat berkaitan dengan materi yang akan dibawakan oleh sang guru. Materi yang menarik tentunya akan lebih menggugah siswa untuk ingin tahu sekaligus mempermudah siswa memahami apa yang diajarkan oleh guru.
Materi yang baik adalah materi yang interaktif, menarik, dan mudah dicerna oleh siswa. Keseluruhan hal tersebut dapat dipermudah melalui penggunaan TIK oleh guru. Contoh, ketika guru membahas sebuah materi bahasa Indonesia dengan menggunakan media power point yang didesain dengan menarik maka, murid-murid akan lebih antusias menyimak materi tersebut. Kelebihan lainnya adalah, dengan menggunakan  power points, materi yang disampaikan tidak akan panjang lebar (seperti teknik dikte atau mencatat di papan tulis) melainkan, guru harus merangkum headlines dan pokok isi materi untuk kemudian disampaikan secara interaktif kepada siswa (metode presentasi). Hal ini juga dapat memicu respon siswa yang lebih besar, jika pada presentasi, guru memberikan informasi yang terbatas sehingga siswa merasa terdorong rasa keingintahuannya untuk mencari informasi yang lebih lengkap dari pada yang di sampaikan oleh guru.
                                                Contoh tampilan power point
Selain melalui penggunaan power point dalam menyusun dan membawakan bahan ajar, pemanfaatan teknologi informasi juga dapat digunakan dalam bentuk e-learning. Program ini menawarkan interaksi yang lebih dinamis antara guru dan siswa. Salah satu contoh konkretnya adalah, dikembangkannya fasilitas pembelajaran elektronik lainnya yang yaitu TV Edukasi, yang menampilkan berbagai topik pembelajaran dari berbagai mata pelajaran dengan modus penyampaian yang bervariasi. Banyaknya CD pembelajaran yang dapat ditemukan di pasaran atau didistribusikan ke sekolah-sekolah juga menjadi peluang tersendiri yang dapat dimanfaatkan oleh sekolah dalam menunjang proses pembelajaran yang lebih baik. Dengan adanya CD tersebut, di samping lebih efisien, siswa akan lebih tertarik dan merasa tidak terbebani dengan buku yang mungkin selama ini membaka efek psikologis siswa menjadi malas membaca. Dengan membaca melalui isi kepingan CD maka, kegiatan membaca akan jauh lebih menyenangkan dan santai. Sayangnya, meskipun disadari bahwa TIK dapat membantu mempercepat proses pendidikan dan berpotentsi meningkatkan mutu pendidikan, pemanfaatannya belum meluas dan merata di sekolah-sekolah.



BAB IV
SIMPULAN

Pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan membutuhkan komitmen kuat dari semua pihak yang terkait. Pada tingkat sekolah, pemanfaatan TIK sekurang-kurangnya diupayakan untuk mendukung terciptanya manajemen sekolah yang efektif dan terjadinya pembelajaran yang menyenangkan dengan mutu yang lebih baik. Untuk itu, komitmen kepala sekolah, guru, dan staf administrasi sangat dibutuhkan untuk dapat membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan untuk dapat menggunakan TIK, khususnya perangkat lunak yang digunakan di sekolah.
Dari segi pengajaran bidang bahasa, TIK sangat mungkin digunakan guna mendorong kreatifitas kegiatan belajar-mengajar. Mulai dari penggunaan audio sebagai model sarana untuk mempelajari artikulasi penutur asli hingga penggunaan ”situs pencarian” seperti Google-translate untuk membantu siswa dalam mempelajari bahasa melalui sarana Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).






PUSTAKA

Noni, Nurdin. 2009. Modul Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam     Pendidikan. Makasar: Universitas Negeri Makasar.

Priowirjanto, Gatot Hari. 2008. Penerapan Teknologi Informasi. 2008.
Malang: Google-sites.

UNESCO. 2004. Schoolnettoolkit. Bangkok: UNESCO Asia and Pacific Regional Bureau for Education.
Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. 2007. Perangkat lunak. Wikimedia Foundation, Inc.

Jumat, 06 Januari 2012

Teknologi dalam Dunia Pendidikan (Selayang Pandang)

1. Pendahuluan
Teknologi dalam pendidikan mencakup setiap kemungkinan sarana (alat) yang dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam pendidikan dan latihan. Ellington (1989) menyatakan bahwa teknologi dalam pendidikan pada dasarnya adalah apa yang oleh teknologi pendidikan dipopulerkan dengan nama alat bantu pandang dengar (audiovisual aid). Selanjutnya dikembangkan dalam pembelajaran untuk pencapaian tujuan pembelajaran tertentu. Teknologi dalam pendidikan merupakan perpaduan Aspek Teoritis Dalam Pendidikan, Aspek Perangkat Keras (komponen yang saling bergantung tetapi tidak berbeda satu sama lainnya) dan Aspek Perangakat Lunak (berkenaan dengan benda yang dipakai pada perangkat keras).

2. Pemanfaatan Teknologi Dalam Pendidikan
Pengguanaan teknologi telah berjalan lama sesuai perkembangan dan aspeknya. Eric Hasby membagi revolusi dalam pendidikan menjadi 4, yaitu: Pertama, saat masyarakat mendiferensiasikan peranan orang dewasa, Kedua, digunakannya tulisan sebagai sarana pendidikan, Ketiga, ditemukannya mesin cetak dan Keempat, penggunaan teknologi canggih sebagai perkembangan bidang elektronik. Dari apa yang dialami ternyata bahwa terdapat hubungan timbal balik antara teknologi dan pendidikan, hal ini lebih terkhusus lagi dengan teknologi komunikasi.
Kecenderungan pendidikan yang dikaitkan dengan perkembangan teknologi komunikasi dikemukakan Miarso dan Iskandar (1974) sebagai berikut :
a. Kecenderungan pendidikan sepanjang jaga
b.  Pendidikan gerak cepat tetapi tepat
c. Pendidikan yang mudah dicerna dan diresapi
d.  Pendidikan yang memikat hati
e.  Penyebaran pusat pendidikan
f.  Pendidikan mustari (tepat pada saat penyampaiannya)
g.  Pendidikan yang murah
Kegunaan teknologi dalam pendidikan dinyatakan Komisi Instruksional AS, sebagai berikut :
a.  meningkatkan produktivitas pendidikan
b. memungkinkan pendidikan individual
c. memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pengajaran
d. lebih memantapkan pengajaran
e. memungkinkan belajar seketika
f. memungkinkan penyajian pendidikan lebih luias dan merata
Agar penggunaan teknologi dalam pendidikan tepat sasaran, maka pengelola pendidikan harus mengetahui klasifikasi teknologi dalam pendidikan, di antaranya : teknologi tingkat rendah, media audiovisual, format komputer, telekomunikasi dan teknologi lunak.

3. Implementasi Teknologi Dalam Pendidikan
Implementasi teknologi dalam pendidikan dapat dilihat pada sektor berikut:
a. Pendidikan Dasar dan Menengah, teknologi diharapkan mempengaruhi peningkatan motivasi, menguatkan pengajaran, meningkatkan lingkungan psikologi di dalam kelas
b. Pendidikan Tinggi, penggunanan teknologi dimaksudkan untuk merangsang dan memotivasi mahasiswa dalam mengembangkan intelektualnya sehingga dapat mengembangkan penelitian dan pengembangan ilmu baik teoretis maupun terapan
c. Belajar Jarak Jauh, menyediakan media perantara antara pelajar dan lembaga pendidikannya
d. Pendidikan Luar Biasa, berfungsi sebagai alat bantu bagi anak-anak yang menglami kelainan
e. Pendidikan dan Latihan, berpengaruh langsung terhadap persiapan tenaga kerja yang semakin kompleks untuk menghasilkan tenaga terampil
f. Dalam Pendidikan Matematika, hal ini berkaitan dengan program-program yang telah disiapkan, alat peraga dan penyelesaian soal-soal
g. Dalam Pendidikan Sains, beruapa aplikasi program komputer dan sistem pemodelan
h. Dalam Pendidikan Bahasa, berkaitan dengan penulisan, mendengarkan, telekomunikasi dan lainnya.

4. Simpulan
Teknologi dalam pendidikan merupakan bagian dari konsep teknologi pendidikan berupa media untuk memperlancar kegiatan instruksional. Potensi penggunaan teknologi dalam pendidikan berkaitan dengan usaha peningkatan produktivitas pendidikan, memungkinkan pendidikan bersifat individual, cepat dan lainnya. Implementasi teknologi dalam pendidikan hendaknya selektif sesuai konteks sesuai karakteristik si belajar dan tingkat kognitifnya.

Eufemisme: Sopan Santun yang Menipu


Ungkapan bahwa bahasa adalah milik masyarakat sebagai pemakai bahasa, kini semakin jelas keberadaannya. Penggunaan bahasa-bahasa kiasan sudah semakin lancar. Hal ini dapat dilihat di berbagai media cetak dan elektronik. Perkembangan bahasa memang tidak bisa dibendung lagi. Misalnya eufemisme atau penghalusan bahasa adalah salah satu bentuk pemakaian bahasa dalam masyarakat yang sudah semakin lancar penggunaannya. Mungkin karena tuntutan zaman yang mengharuskan atau karena pola pikir masyarakat pemakai bahasa yang selalu berubah-ubah.
Kelancaran penggunaan bahasa tersebut merupakan akibat dari kebebasan berbahasa yang dimiliki oleh setiap individu tanpa ada sanksi yang mengikat jika ada pelanggaran terjadi. Kebebasan itu diartikan sebagai sebuah kesempatan untuk berekspresi melalui bahasa. Memang hal ini dapat memberi corak tersendiri dalam rekaman sejarah perjalanan bahasa Indonesia di tengah-tengah banyaknya penggunaan bahasa daerah serta maraknya penggunaan bahasa asing sebagai salah satu kebanggaan tersendiri bagi pemakainya.
Selain itu, kebebasan berbahasa ini juga sangat ditentukan oleh prinsip pragmatik sebuah bahasa. Pada dasarnya, prinsip ini mengartikan bahwa bahasa bukan sebagai sebuah aturan yang dapat mengikat setiap pemakainya tetapi lebih menitikberatkan bahasa sebagai alat komunikasi bagi individu. Aturan atau ejaan ditempatkan pada nomor yang paling bawah, yang terpenting bagaimana bahasa itu dapat dimengerti oleh orang yang membaca atau mendengarnya.
Salah satu bentuk kebebasan tersebut adalah penggunaan gaya bahasa tersendiri oleh setiap individu. Gaya bahasa tersebut bukan lagi dilihat dari jenis kelompok sosial pemakainya, melainkan kadang-kadang gaya bahasa perorangan yang menonjol. Istilah sosiolinguistik mengatakan bahwa bahasa seperti yang dipraktikkan setiap individu tersebut dinamakan idiolek. Dengan idiolek ini, seseorang dapat diketahui hanya dengan gaya bahasanya yang khas dan unik. Ilmu psikolinguistik dapat dengan jelas membedakan gaya bahasa ini terkait dengan jiwa atau kebiasaan seseorang. Hanya lewat bahasa seseorang dapat dengan mudah diketahui karakternya.
Kembali ke persoalan berbahasa yang selalu diikuti oleh munculnya gaya bahasa tersendiri. Salah satu gaya bahasa yang menjadi pusat perhatian penulis saat ini adalah gaya bahasa eufemisme seperti yang telah disinggung pada awal tulisan ini. Hal inilah yang membuat penulis memilih judul Eufemisme: Sopan Santun yang Menipu.
Eufemisme merupakan acuan yang berupa ungkapan yang tidak menyinggung perasaan atau ungkapan halus untuk menggantikan acuan yang dirasakan menghina atau tidak menyenangkan. Intinya, mempergunakan kata-kata dengan arti baik. Eufemisme juga sering diartikan sebagai ungkapan yang bersifat tidak berterus terang.
Eufemisme atau juga pseudo eufemisme menjadi motif dorongan di belakang perkembangan peyorasi. Eufemisme berlatar belakang sikap manusiawi karena dia berusaha menghindar agar tidak menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain. Seandainya tidak ada eufemisme mungkin akan terjadi depresi makna atau perendahan makna.
Namun di balik semua itu, eufemisme ini dapat mengaburkan makna sehingga makna semula tidak terwakili lagi oleh bentuk atau konsep yang menggatikannya. Pergeseran makna ini tentu akan memberikan pengaruh terhadap masyarakat pemakai bahasa.
Tujuan awal yang baik eufemisme ini adalah untuk bersopan santun. Namun, di balik semua itu ada hal-hal yang keluar dari tujuan semula tersebut. Kadang-kadang ada bagian eufemisme yang penggunaanya sudah berlebihan sehingga apa yang ingin disampaikan tidak dapat tertangkap secara tepat oleh pembaca atau pendengar. Memang tujuan penggunaan eufemisme tersebut adalah untuk bersopan santun tetapi ada juga yang bisa menipu. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa eufemisme adalah sopan santun yang menipu.
Hal itu tidak dapat dipungkiri karena banyak orang-orang tertentu yang pandai menggunakan bahasa dan berlindung di balik eufemisme tersebut. Banyak pula di antara penggunanya merasa aman dengan pemanfaatan gaya bahasa seperti ini.
Salah satu contoh eufemisme yang berlebihan adalah frasa kekurangan pangan. Frasa ini konsep sebenarnya adalah kelaparan, tetapi karena penggunaannya berlebihan sehingga eufemisme ini menimbulkan makna atau konsep lain terhadap pembaca. Konsep lain ini muncul karena adanya pergeseran makna dari makna sebelumnya. Akhirnya masyarakat pembaca menganggap hal ini adalah sebuah kewajaran dan tidak menimbulkan rasa prihatin terhadap korban kelaparan yang dimaksud.
Pada masa orde baru pemerintah merasa riskan mengatakan rakyat miskin. Mereka cenderung menggantinya atau mengeufemismekan dengan frasa masyarakat prasejahtera, masyarakat prasejahtera 1, 2, dst. Akhirnya, dampak yang dirasakan melalui penggunaan eufemisme ini adalah negara Indonesia terkesan tidak memiliki rakyat miskin karena dunia telah terbohongi oleh sebuah bahasa.
Namun apa terjadi saat ini, semua hal itu terhapuskan setelah bangsa Indonesia memasuki orde reformasi. Rakyat miskin atau keluarga miskin justru menjadi predikat rebutan setiap masyarakat karena siapapun yang tergolong di dalamnya pasti akan mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT). Sekarang banyak yang mengaku sebagai keluarga miskin. Frasa keluarga prasejahtera kini telah tergantikan menjadi keluarga miskin atau diakronimkan menjadi gakin.
Lain halnya dengan istilah wanita tuna susila (WTS) dan pekerja seks komersial yang merupakan penghalusan dari kata pelacur juga menimbulkan penafsiran lain. Penggunaan istilah WTS telah memberikan sedikit rasa aman oleh pelakunya karena mereka seakan-akan terlindungi oleh sebuah bahasa. Sementra penggunaan kata pekerja seks memberikan arti bahwa seakan-akan perbuatan melacur itu diakui sebagai sebuah pekerjaan yang legal.
Contoh ini membuat penulis semakin yakin bahwa bahasa adalah salah satu unsur yang memiliki andil cukup besar dalam kehidupan masyarakat. Eufemisme ini dapat pula sarat akan kepentingan golongan atau bernilai politik. Seperti kondisi yang telah terjadi dan masih akan terjadi lagi yakni, pemilihan kepala daerah/walikota dan pemilu 2009 nanti sangat rawan dengan bahasa-bahasa penghalusan yang sarat dengan kepentingan tertentu. Banyak kandidat yang berkampanye dengan menunggangi bahasa sebagai alat untuk mencapai tujuannya.
Dahulu kenaikan harga bahan pokok selalu ditentang dengan aksi demo atau unjuk rasa oleh masyarakat. Namun, sekarang aksi-aksi unjuk rasa semacam itu dapat diredam hanya dengan dua kata, yakni mengganti dengan frasa penyesuaian tarif atau penyesuaian harga. Masyarakat pun hanya diam mendengar dan membacanya. Akhirnya kenaikan harga dapat dimaklumi.
Bahkan ketika korupsi mantan Menteri Kelautan dan Perikanan era pemerintahan Megawati Soekarnoputri yang baru mencuat di pertengahan tahun 2007 lalu dapat berhenti begitu saja tanpa ada pihak yang bersalah. Menurut berbagai pihak yang terkait kasus ini, katanya kasus itu telah diselesaikan secara kekeluargaan. Mungkin dapat dibayangkan, jika sesuatu yang diselesaikan secara kekeluargaan tentu tidak ada pihak yang bersalah atau dijatuhi hukuman. Frasa diselesaikan secara kekeluargaan inilah yang dapat meredam dan mengaburkan makna untuk tujuan kepentingan tertentu. Sebenarnya masih banyak penggunaan eufemisme ini yang sudah mengaburkan makna, misalnya: berkoalisi dieufemismekan menjadi bersilaturahmi, penggusuran menjadi penertiban, kelaparan menjadi kekurangan pangan, busung lapar menjadi gizi buruk, korupsi menjadi kesalahan prosedur, dll.